How To Get Your Harmony

Mari menjadi benar dan hidup dengan indah, sobat. Berikut sebuah tulisan yang merupakan ringkasan dari tulisan-tulisan yang pernah di-post sebelumnya di situs www.getyourharmony.wordpress.com Ditambah sedikit pengubahan.
Seorang penulis pernah menyarankan kepada saya agar membuat tulisan yang menjawab pertanyaan How? Tulisan yang laku saat ini adalah tulisan yang seperti itu katanya, berangkat dari kondisi masyarakat yang memang ingin serba praktis, “Kasih tahu aja gimana caranya”. Karena dia profesional, ya saya pun turut mengikutinya dengan membuat tulisan ini. So, here they are, points you should do to get your harmony.

1.    Rendah hati dulu, baru bicara kebenaran.

Ini adalah langkah paling awal yang harus dilakukan. Seorang yang tidak rendah hati akan menggunakan kebenaran-kebenaran yang ada demi mendukung egoismenya. Hal ini jelas membuat esensi kebenaran menjadi kabur. Saya biasanya akan ‘tutup telinga’ kalau mendengar ucapan-ucapan kebenaran dari orang yang tinggi hati. Rendah hati dulu dong, baru bicara kebenaran.

2.    Berpikirlah sebebas-bebasnya, jangan biarkan keadaan yang mengendalikan dirimu.

Langkah berikut, setelah anda telah rendah hati, peroleh independensi berpikir. Di sekitar kita banyak keadaan yang mencoba merasuki kita. Biasanya, bukan keadaan yang positif, karena kita memang sedang dilanda iklim sosial yang korup. Maka, berpikirlah tanpa terikat dengan itu semua. Peroleh independensi, raih kemurnian dan kemuliaan dalam berpikir. Selalulah menjadi manusia baru dalam hal pemikiran.

3.    Pandang semua dari sisi indahnya.

Alangkah indahnya dunia. Semua yang tercipta mempunyai sisi indah. Mari memandang itu. Dunia terlalu kacau untuk langsung dipahami secara keseluruhan. Sebagai permulaan, kita butuh pegangan, dan pegangan yang tepat adalah keindahan yang terpancar dari setiap hal. Hargai segala yang ada. Independensi berpikir tanpa keberpihakan akan membuat kita kehilangan makna. Maka berpihaklah pada keindahan yang terpola dalam hakekat, itu langsung dari Dia loh.

4.    Penuhi kebutuhan, batasi keinginan. Selebihnya, serahkan diri dalam visi yang penuh cinta.

Ini adalah poin terpenting dari pencapaian harmoni. Mari belajar dari alam, tempat harmoni bersemayam. Alam bergerak berdasarkan kebutuhan, alam tidak memiliki keinginan. Kita bisa merasakan cinta yang terpancar dari alam, kita difasilitasi untuk hidup dan lestari. Maka sudah selayaknya kita mengikuti pola hidup alam, demi harmoni.

Demikianlah, empat poin yang anda harus laksanakan terlebih dahulu demi pencapaian harmoni. Jika sudah dilaksanakan, anda berarti sudah memiliki bahan baku untuk paradigma Progresif-Harmoni, paradigma yang akan membuat makna hidup anda meledak-ledak memancarkan kesegaran.
Laksanakan setiap poin dengan sungguh-sungguh. Di poin nomor empat, anda pasti akan terjebak dalam satu pertanyaan: Seperti apa sebenarnya visi yang penuh cinta? Renungkan.

Get Your Harmony,
Andri E. Tarigan

Penentu Mitos

            Setiap harinya, kita berhadapan dengan mitos. Kita bermain-main dengan alam bawah sadar demi mendapatkan keteraturan yang ditandai adanya kehati-hatian. Jangan menyapu malam-malam, jangan gunting kuku tengah malam, dan mitos lainnya, ada di segala sisi, berperan aktif menjadi pewarna hidup.

Saya termasuk orang yang suka bermain-main dengan mitos. Bermain, yang saya maksud adalah mind games, permainan otak. Saya coba mengkritisi mitos-mitos yang berseliweran di jagad otak saya, yang diinternalisasi oleh agama, adat, lingkungan masyarakat, dll. Saya mempertanyakan keberadaan mitos-mitos tersebut. Berapa persen kira-kira kebenaran yang dikandung mitos tersebut? Apa fungsi mitos itu? Apa hal empiris yang kira-kira membuat mitos tersebut dapat dipercayai untuk waktu yang lama?

Bukan kurang kerjaan saya mengkritisi mitos. Mitos punya kemampuan besar untuk mengontrol diri kita, menentukan batasan diri kita. Apabila kita memakai mitos yang tidak tepat, maka kita akan desperate, tertekan. Tertekan karena pemahaman kita akan batasan diri kita menjadi salah. So, kita layak memilah mitos mana yang kita pegang. Mana yang lebih membuat kita bertransformasi, yang lebih memuliakan kita, yang membuat kita lebih bertuhan. Segera kritisi mitos-mitos yang ada. Mengkritisi bukan berarti anti terhadap mitos atau menyalahkan mitos, melainkan kita beroleh pemahaman yang terstruktur tentang keberadaan mitos-mitos tersebut. Sehingga, tak keliru menggunakannya.

Apapun mitos yang anda terima, baik dari agama, adat, masyarakat, segera pelajari psikologi (tentu sekedarnya, tak harus ilmiah) yang membuat mitos itu ada. Kenali konteksnya. Lihat kebenaran yang ditujunya, bukan ‘kebenaran’ yang ditunjukkannya.

Sebagai contoh, katakanlah mitos tentang betapa bernilainya kita apabila berpola hidup glamour ala Hollywood. ‘Kebenaran’ yang ditunjukkannya adalah “kita bernilai apabila glamour”. Banyak orang yang berheti pada ‘kebenaran’ ini, sehingga mengisi hari demi hari menjalani hidup mewah, sekalipun, kebanyakan, dilakoni oleh orang yang kurang mampu. Alhasil, utang menumpuk, kasih terhadap sesama (mereka yang miskin) semakin tumpul, kesombongan menguasai diri, dll. Berbagai perilaku akhirnya menyiksa diri hanya karena ingin memenuhi hasrat menjadi barat.

Padahal, kalau dikritisi, kalau dilihat kebenaran yang ditujunya, bukan yang ditunjukkannya, maka tahulah kita bahwa “penyiksaan diri” yang digambarkan diatas merupakan efek wajib yang mesti dirasakan apabila mitos glamour tersebut dipegang. Mitos tersebut sengaja disebar sebagai strategi marketing dari para produsen barang-barang glamour. Pola hidup kita sengaja dibentuk melalui penularan mitos-mitos, agar konsumen mereka bertambah. Kalau kita menyadari, bermain-main (mengkritisi maksudnya) terlebih dahulu dengan mitos tersebut, tentu kita akan lebih peka terhadap dampak buruknya.

Saya sendiri menyatakan bahwa “dalam menghadapi mitos, lihat yang dituju, bukan yang ditunjukkan” adalah berdasar pada keberadaan mitos itu sendiri. Menurut saya, mitos merupakan sesuatu yang kita yakini tanpa harus ada pembuktian kebenaran secara empiris maupun rasional, yang mana keberyakinan kita terhadapnya mampu membuat kita lebih mengontrol diri.

Sepakat? Kalau anda sudah sepakat dengan pendapat saya di atas, maka lanjut ke pendapat berikutnya. Mitos, karena belum tentu memiliki bukti kebenaran, maka tidak berhak memberitahu kita kebenaran. Tidak berhak menjadi penentu kebenaran. Fungsi mitos adalah membantu kita mengontrol diri, bukan menentukan kebenaran. Maka apapun yang ditunjukkan oleh mitos bukanlah suatu kebenaran yang layak untuk dipegang. Tetapi yang ditujunya, bantuan kontrol diri, mau kemana diri kita akan tergerak apabila memegang suatu mitos tertentu, itu yang perlu kita ketahui, sehingga akhirnya kita lebih bijak menentukan apakah suatu mitos tertentu layak dipegang.

Penutup, saya ingin menyerukan di telinga anda tentang satu fakta yang hampir saja terlupa: “Anda berkemampuan untuk menciptakan sendiri mitos yang anda mau!”. Saya menjeritkannya dengan sangat keras. Anda memiliki akal budi untuk menciptakan mitos sendiri, yang ideal! Saya percaya bahwa setiap manusia, anda dan saya, berhak menjadi penentu mitos. Mengkritisi mitos yang sudah ada, mengeliminasi yang tidak layak, dan menciptakan mitos baru yang penuh kekuatan.

Ya, penuh kekuatan. Tunggu apa lagi? Bangkitlah, dan menjadi penentu mitos!

 

Get Your Harmony,

Andri E. Tarigan

Saya Hidup Hari Ini

Jelas saya berpikir tentang masa depan, kehidupan yang mapan, buah investasi jangka panjang. Saya sering terpesona dengan kemajuan teknologi, kemudahan-kemudahan yang akan semakin mewarnai kehidupan manusia. Saya dulu tergiur dengan jaminan-jaminan futuristik yang ditawarkan dengan gaya-gaya asuransi. Hal serupa ditemukan dalam penawaran produk kimia, yang mengaku mampu menjaga kesehatan kita di masa depan. Dan seiring dengan keinginan akan kehidupan ideal di masa depan tersebut, beranak-pinaklah aktivitas bisnis yang berlaku mendekati Tuhan, yang memberi jaminan kepastian tentang masa depan, yang ganjilnya, dilakukan dengan menawarkan cara-cara praktis.

Keinginan kita menjadi sumber rasa takut kita akan masa depan. Para pebisnis mengolah rasa takut kita menjadi elemen pasar yang paling menguntungkan. Jangan marah kalau saya bilang bahwa kita tidak percaya diri terhadap kondisi kita hari ini. Kita tidak percaya diri sehingga tergiur dengan tawaran-tawaran praktis atau angan futuristik yang menjebak kita untuk hanya memikirkan diri sendiri. Kita menyibukkan keseharian kita untuk mengumpulkan materi sebanyak-banyaknya demi masa depan yang kita anggap cerah. Kita hidup seakan di masa depan sehingga tak jarang kita lupa bahwa hari ini, banyak cinta yang menanti untuk kita lakukan.

***

            Seringkali kita mengenang kejayaan masa lalu, dan membuat kita mengklaim bahwa SAYA ORANG HEBAT. Kehebatan masa lalu membuat kita enggan menerima hal-hal baru karena takut nantinya kehebatan tersebut terusik. Sementara orang-orang di sekitar kita ingin maju, kita sadar tidak sadar menghalangi mereka agar mereka tidak menjadi penyebab kejatuhan kita, penyebab hilangnya kehebatan kita. Mempertahankan ego yang semacam ini membuat kita mudah kesal dengan orang lain. Sehingga, kita susah maju dan terjebak hanya dalam realitas kita sendiri. Kita hidup seakan di masa lalu sehingga lupa bahwa hari ini banyak momen yang bisa kita ciptakan.

***

            Saya hari ini.

            Saat ini, saya menyadari bahwa saya hidup di saat ini, bukan di saat yang lalu, bukan pula di saat yang akan datang. Bukan bermaksud menelantarkan logika kausalitas dimana masa lalu yang membentuk hari ini dan hari ini yang membentuk masa depan, tapi terlebih karena teramat banyak aktivitas cinta yang boleh saya lakukan di hari ini. Teramat banyak momen yang boleh saya ciptakan di saat ini. Sayang saja manusia memiliki keterbatasan dalam bertindak, dan, lebih sayang pula kalau tak bertindak. Layaklah berpikir, jika setiap detik kita isi dengan aktivitas cinta.

            Saya hidup hari ini. Saya hidup bukan di masa depan apalagi di masa lalu. Saya hidup hari ini, saya hidup untuk cinta hari ini.

 

Get Your Harmony,

Andri E. Tarigan

Menjadi Berharga

Bagaimanakah cara agar dihargai oleh orang lain? Saya menanyakan hal ini ke beberapa teman di tempat dan jam yang sama, dan jawaban mereka serupa, “hargailah orang lain”. Saya tersenyum. Tampak pada saat itu saya dikelilingi oleh orang-orang yang berpemikiran timur dimana budaya saling menghargai adalah nilai yang dipelihara dengan baik. Akan tetapi, selaku pertanyaan lanjutan, cukupkah hanya dengan menghargai orang lain?

 

Saya mengenal banyak orang yang selalu menghargai orang lain. Selalu menyapa orang lain sekalipun orang yang disapa tersebut tak jarang sudah lupa dengannya. Dalam pemikiran subjektifnya, dia merasa sangat bernilai karena dianggap gaul. Saya menghargai orang lain, orang lain menghargai saya, begitu pikirnya. Dia beranggapan bahwa harga-menghargai merupakan tindak memberi budi lalu mengharap balas budi. Dia meninggikan diri karena merasa memiliki teman-teman yang bernilai. Dia merasa berharga.

 

Benar akhirnya dia memiliki banyak kenalan. Karena, pada kenyataannya, siapa sih yang tidak suka kalau ada orang yang mau menghargai kita? Itu yang dirasakan teman-temannya, yang mau memasukkan dia ke dalam lingkaran sosial mereka karena dia mampu bertindak sebagai mesin yang selalu memberi penghargaan. Sebagai imbalan, hanya cukup dijadikan teman, dan sesesekali, teman-temannya memberi kalimat penghargaan yang sebenarnya pun bertujuan agar dia betah di posisinya sebagai mesin pemuji.

 

Satu-satunya harga yang dimiliki orang yang saya kenal ini adalah penghargaannya terhadap orang lain. Sehingga orang hanya akan menghargai dia setelah dia terlebih dahulu memberi penghargaan ke orang lain. Orang yang haus penghargaan akan bersedia berteman dengan baik ke dia. Miris, hanya orang yang haus penghargaanlah yang mau berteman dekat dengan dia. Orang yang memang bernilai akan berpikir berkali-kali untuk benar-benar menghargai dia. Penghargaan yang diberikan hanya sekedar, karena tidak butuh usaha yang ‘wow’ untuk hanya menghargai orang lain, dan tidak ada alasan yang tepat untuk menghargai orang yang tidak mampu menjadi berharga.

 

Ya, orang yang saya kenal itu, yang selalu menghargai orang lain itu, tidak akan dihargai dengan sungguh karena dia tidak mampu menjadi berharga. Dia sibuk menghargai orang lain tanpa berpikir tentang harga dirinya, dia tidak menghargai dirinya, hanya berharap feedback dari orang lain. Dia malas berusaha membangun nilai, melakukan transformasi dalam dirinya. Zaman berkembang, usia bertambah, tapi tak ada yang berkembang bagi dirinya, dia sibuk menjadi mesin pemberi penghargaan bagi popularitas orang lain.

 

Bernilai

            Jika pertanyaan ditujukan kepada saya, bagaimanakah cara agar dihargai oleh orang lain? Maka dengan raut wajah ekspresionis hasil kombinasi radikal dari tatapan mata yang berapi dan senyum yang menyejukkan, seluruh sendi ditubuh saya akan berbahasa dan berkata, Berhargalah!

 

Jika ingin dihargai maka berhargalah! Bukan menghabiskan waktu dengan sibuk menjadi mesin pemberi penghargaan yang sebenarnya dapat dibuang kapan saja. Kecenderungan dari para mesin pemberi penghargaan adalah mereka terlahir dari keluarga yang berekonomi rendah. Mereka terjebak dalam fatalisme bahwa orang yang bermodallah yang menguasai jagad raya sehingga mereka yang berasal dari kalangan rendah merasa harus tahu diri dan mencari posisi nyaman yakni menjadi mesin pemberi penghargaan, merelakan diri diperbudak kondisi, membuang segala kesempatan untuk meng-upgrade nilai diri.

 

Salah besar. Anda dengan sendirinya telah membunuh nilai diri anda jika anda termasuk dalam kategori mesin pemberi penghargaan. Orang yang bernilai tak akan menghargai anda, karena anda memang tidak berharga. Anda hanya pelengkap popularitas orang lain.

 

Bangkitlah, berdiri, berbalik arah. Buang jauh-jauh pengharapan akan nilai-nilai yang anda harapkan akan diakui oleh orang lain. Anda akan dihargai jika anda memang bernilai, dan nilai adalah sesuatu yang ditunjukkan, bukan yang diakui.

 

Gali potensi diri anda. Tinggalkan keinginan-keinginan untuk dihargai dengan cara-cara pintas, karena itu hanya akan mengurangi nilai anda. Mulailah bergerak untuk tujuan-tujuan yang lebih mulia. Jika anda merasa bahwa zaman tak mendukung nilai-nilai yang masih mungkin anda kembangkan, anak-tirikan zaman dari hidup anda, dan mulai berfokus pada transformasi diri dengan nilai-nilai yang masih mungkin anda kembangkan.

 

Jadilah pemimpin bagi diri sendiri, dan jadilah orang yang berperan dalam pewarnaan dunia. Setiap manusia punya nilai-nilai yang telah tertanam dalam dirinya melalui konsumsi-konsumsi yang didapat sejak lahir. Jika anda merasa nilai dalam diri sudah usang dan tak layak dikembangkan, silahkan menghapusnya dan bangun nilai-nilai baru yang dapat diperoleh dengan menggunakan kemampuan tereksotis yang pernah dimiliki manusia, daya cipta.

 

Saya mengajak anda untuk meng-upgrade nilai diri, agar penghargaan demi penghargaan yang berlalu lalang di jagad raya ini sepenuhnya sejati. Lihat bagaimana penghargan-penghargaan semu saat ini bertebaran sehingga prilaku korup disuburkan. Kita menolak itu. Kita benci hal-hal korup dan kita adalah orang yang senang dengan nilai, kita bernilai.

 

Menjadi berharga adalah pilihan, teman!

 

GYH,

Andri E. Tarigan

Let Your Spirit Speak and Lead


            Segelas teh manis hangat, sebungkus roti dan satu eksamplar koran lokal tersedia di depan saya. Ditambah sejuknya udara pagi disertai sinaran hangat mentari, dengan penuh semangat saya lakoni sarapan pagi saya. Saya melahap roti dan meneguk teh dengan pikiran yang tenang, pikiran yang dengan santainya menyusun rencana kegiatan seharian. Sesekali kulihat ke arah koran yang sepertinya terus berbisik memanggilku, berharap dibaca. “Sabar ya koran, kunikmati dulu rotiku”, benakku. Setelah sang roti seluruhnya telah meluncur melewati kerongkongan, segeralah kuraih koran yang sedari awal telah menggodaku.

 

Kriminal, topik yang paling yang banyak diumbar oleh koran tersebut. Dalam analisis saya yang sederhana terbaca dua poin. Pertama, dunia manusia yang semakin tidak manusiawi. Entah kemana suara rohani sehingga semakin banyak manusia lupa diri, gelap mata, dan melakukan tindakan-tindakan yang sangat merugikan orang lain bahkan merenggut nyawa orang lain. Kedua, selera masyarakat yang sedemikian negatif sehingga media turut mengangkat kriminal sebagai topik terbanyak. Masyarakat tampak begitu menikmati sajian-sajian yang menggambarkan tindakan-tindakan buruk. Bahkan sampai ketagihan. Tak jarang terpaku di mindset orang-orang bahwa dunia ini memang begitu kotor dan kekotoran itu layak dinikmati.

 

Saya tidak sepakat. Saya benci melihat berita kriminal yang diekspos berlebihan sehingga para pembaca setia koran tidak lagi menjadi pemerhati isu yang baik, melainkan menjadi orang yang menganggap wajar sekaligus pula yang mengutuki kejadian-kejadian negatif yang tersebar di masyarakat. Hal ini yang lama-kelamaan mempersulit semangat perubahan yang positif dikembangkan di masyarakat.

 

Manusia-manusia gelap mata, yang tidak lagi mengandalkan rohaninya dalam mengambil keputusan, menjadi pembentuk paradigma masyarakat. Oh, betapa mirisnya. Saya dan Progresif-harmoni mengajak anda untuk bangun. Hei! Hidup terlalu singkat untuk dihabiskan dengan produk-produk negatif. Kesempatan yang mungkin kita rasakan bisa jauh lebih indah.

 

Anda adalah manusia, mahkluk spesial (walau dalam gambaran yang lebih kasar, saya sering membahasakan manusia sebagai hewan yang bermasalah). Yang membuat anda spesial adalah anda diberi otak yang berotoritas tinggi atas langkah-langkah maju yang mungkin anda lakukan. Dan dengan penuh kesadaran anda berkesempatan untuk memperbaiki dunia anda yang rusak.

 

Lawan Kriminalitas

Beberapa pengamat mengatakan bahwa tingkat kriminal yang tinggi dan berbagai paradigma negatif yang berkembang terjadi tidak lain karena tingkat kesejahteraan yang terus menurun. Kemiskinan membuat mereka sulit menggunakan rasio secara tepat karena terganggu perut yang bising berkeroncong. Saya sepakat dengan ini. Banyak kebijakan yang tak bijak diterapkan di negeri ini, yang pelaksanaannya menyuburkan kemiskinan. Saya sepakat bahwa rakyat yang miskin dan bodoh merupakan realitas hasil dari sistem-sistem tak sehat yang diterbitkan negara.

 

Solusi mendasar pertama yang bisa dilakukan untuk meminimalisir kriminal adalah perbaiki sistem yang ada menjadi sistem yang benar-benar pro kepada rakyat miskin (rakyat miskin jumlahnya terbanyak) bukan yang pro kepada para pemilik modal (yang jumlahnya sedikit tapi sering bikin pemerintah ciut). Solusi mendasar kedua, ganti paradigma. Jika kriminal dilakukan oleh orang yang menjauh dari sudut rohani, maka sebarkan paradigma yang mendekat ke sudut rohani.

 

Rohani manusia merupakan hal yang esensi dalam keberlangsungan kehidupan. Roh sifatnya suci, tapi kekeliruan logika, emosi, dan daging sering membuat roh terbenam kesuciannya. Mari dengarkan roh anda. Dasari semua kegiatan anda bukan pada keindahan yang ditawarkan logika, emosi, atau daging, melainkan pada keindahan yang ditawarkan rohani. Biarkan rohani anda yang berbicara dan memimpin. Let your spirit speak and lead. Sejajarkan semua kinerja logika, emosi, dan daging, kepada kehendak yang dinyatakan rohani.

 

Kehendak rohani adalah kehendak yang ditawarkan oleh agama-agama. Keberadaannya mendamaikan. Kehendak rohani setiap manusia pada hakekatnya sama sehingga mengikut rohani mempermudah manusia-manusia menyatu dan hidup harmonis. Gunakan Progresif-harmoni dan pahami bahwa mengikut kehendak rohani merupakan tindak yang mengindahkan dunia manusia secara universal. Turuti hukum agama anda dengan sungguh-sungguh dan lakukan itu bukan hanya karena janji-janji surgawi tapi juga karena anda berkesempatan menjadi agen peubah yang menggerakkan dunia manusia menuju harmoni.

 

Jadikan diri anda beserta seluruh komponen pendukungnya menjadi teladan, penunjuk arah harmoni. Biarkan citra diri anda memancarkan sinar hijau dan segar yang membuat orang tertarik dan melupakan indahnya negatif. Keindahan harmoni yang mendamaikan dan menyeluruh, adalah indah yang selayaknya kita tuju. Rohani sejalan dengan itu.

 

Let your spirit speak and lead. Ambil cat semprot warna cerah dan tuliskan kalimat tersebut di dinding terluas di otak anda. Tulis dengan huruf cetak besar sehingga setiap anda hendak mengoperasikan otak, anda membaca tulisan itu dan mengamalkannya. Biarkan rohani yang memimpin anda dan ajak orang lain berlaku seperti anda. Kampanyekan dalam setiap tindakan anda. Saya yakin kerja keras mulia saya, anda, dan mahkluk rendah hati lainnya mampu mengusir paradigma negatif yang selama ini melestarikan kriminal. Rekomendasi saya, turut jugalah melawan sistem tak sehat yang memiskinkan rakyat miskin. Gunakan hak politik anda untuk menyuarakan perubahan yang sejalan dengan kehendak rohani.

 

GYH,

Andri E. Tarigan

Segalanya Akan Tampak Indah


            Semua bermula dari kegemaran saya menghabiskan waktu membaca buku-buku filsafat dan agama. Suatu ketika, saat saya sedang membaca sebuah buku yang berisi ajaran Budha Zen, saya menemukan sebuah kalimat cerdas nan menarik yang bunyinya seperti ini, “Alam semesta tercipta harmonis. Jika anda melihat kekacauan, andalah pelakunya”. Ah, saya terpukul! Benar-benar terpukul.

 

Betapa tidak, saya sepakat bahwa alam semesta ini harmonis, sepakat bahwa alam semesta ini sempurna, maha indah. Bahkan kesepakatan saya merupakan salah satu alasan mengapa saya harus menjadikan diri sebagai mahkluk beragama. Hanya Dia yang maha besar, maha pencipta yang bisa menciptakan karya sesempurna alam semesta. Dan agama memfasilitasi saya untuk semakin dekat dengan Dia.

 

Di sisi lain kesepakatan itu, saya termasuk orang yang gemar mengkritik. Saya mencari-cari sumber kesalahan atas segala kekacauan yang tampak di depan mata. Saya merasa segala yang ada telah kacau, butuh perbaikan, butuh langkah maju. Benar-benar plin-plan. Satu sisi sepakat bahwa segalanya harmonis, tapi di sisi lain, sepakat bahwa segalanya kacau! Kebingungan melanda terlebih kalimat tersebut mengharuskan saya untuk menyalahkan diri sendiri. Saya menyarankan anda untuk turut memikirkan kalimat tersebut dan mengkajinya secara kritis. Silahkan dalami kebingungan yang sebelumnya pernah melanda saya.

 

Saya sepakat dengan kalimat itu. Saya akhirnya sepakat bahwa saya adalah pelaku kekacauan. Tapi bukan saya sendiri, melainkan semua umat manusia. Seluruh semesta tercipta harmonis, keberadaannya seimbang dan mengindahkan. Akan tetapi, ada bagian semesta yang jauh dari harmoni, yakni alam manusia. Ya, alam manusia yang penuh ketimpangan.

 

Manusia bertindak semaunya, dan akhirnya harus mengalami penderitaan yang mendalam. Manusia melanggengkan penindasan antar-manusia. Coba baca literatur karya Karl Marx, lihat bagaimana sistem hidup kapitalistik yang saat ini kita pakai ternyata merupakan sistem yang cukup menindas. Coba petakan model kehidupan sehari-hari, hubungan pemodal-pekerja, pejabat-rakyat, pengajar-siswa, orang tua-anak, dan banyak lagi hubungan antar manusia yang berlangsung ternyata berat sebelah. Satu pihak menjadi subjek, pihak lain menjadi objek. Untuk mengetahui lebih dalam tentang hal ini, lihat literatur karya Paulo Freire.

 

Setiap manusia sejatinya merupakan subjek, merupakan pelaku. Kemanusiaan setiap manusia harus dihargai secara merata, dengan itu sejatinya hidup manusia penuh dengan keseimbangan sesuai hakikatnya sebagai bagian dari semesta. Miris, masa ke masa, semenjak manusia mulai meninggalkan pola komunal, masuk ke feodalisme, imperialisme, sampai kini kapitalisme, manusia menjadi candu pada penindasan dan lupa akan indahnya keharmonisan. Manusia sesat, lupa hakekat.

 

Ada segelintir orang yang dipercayai banyak orang, namun mahkluk segelintir itu menyelewengkan wewenang yang diberikan. Kepemilikan bersama dikeruk demi keuntungan pribadi. Segelintir orang mengabadikan ketimpangan dan membuat banyak orang menderita. Sekalipun, kelompok segelintir itu sebenarnya turut menderita. Menderita karena terpisah dari kebanyakan, menderita karena minim tindakannya untuk melebur dalam kasih.

 

Orang-orang ini, karena kebiasaan, menjadi nekrofili, mahkluk yang mati cinta sesama. Semakin jauh hakekatnya sebagai manusia dan hakekatnya sebagai bagian dari semesta, terlebih mereka mempertahankan sistem yang juga mencabut kemanusiaan orang banyak, yang ditindas. Penindasan adalah sesuatu yang harus diminimalisir. Sudah selayaknya manusia mengecap kembali keindahan harmoni yang sejatinya diterima selaku bagian dari semesta.

 

Progresif-harmoni

            Dunia manusia sangat kacau, terlalu banyak elemen menindas yang dianggap wajar dan menjauhkan kita dari indahnya harmoni yang ditawarkan semesta. Berkaca dari alam yang tampak sejauh mata melihat, maka dunia manusia sudah cukup rusak. Diperlukan jalan baru yang bisa kita lalui sehingga tak mengikut kepada jalan manusia yang hancur lagi menghancurkan.

Dunia manusia sedang bergerak menjauh dari harmoni. Untuk itu dibutuhkan langkah progresif agar kita berbalik arah, berbalik menuju harmoni. Setiap manusia memimpikan indahnya harmoni, mari kita menyadari hal itu. Hidup manusia masih bisa mendekati harmoni, mari berjuang untuk itu.

 

Kejadian berawal dari tindakan, tindakan berawal dari pikiran, pikiran berawal dari paradigma. Karenanya, untuk membuat suatu perubahan yang berarti dibutuhkan paradigma yang baku dan mampu menciptakan progres yang berarti. Berawal dari pemikiran yang mendasar tentang indahnya harmoni, saya telah mengusahakan sebuah paradigma baru, dasar berpikir baru yang kiranya bisa digunakan bersama dalam mencapai keindahan bersama, saya menamakannya paradigma Progresif-harmoni.

 

Progresif-harmoni adalah sebuah paradigma kebenaran sejati yang tolak-ukurnya adalah keindahan. Hal ini berangkat dari pemikiran saya bahwa segala tindakan manusia didasarkan pada keindahan. Baik itu keinginan, kebutuhan, naluri, nurani, semua penggerak dalam diri manusia merupakan elemen yang mengejar keindahan. Paradigma Progresif-harmoni memandang segala hal dari sisi indahnya. Sehingga, begitu anda mulai menggunakan paradigma ini, segalanya akan tampak indah. Ketentraman dengan sendirinya menjadi milik anda.

 

Dengan Progresif-harmoni, anda tidak akan berkesusahan untuk bergerak mewujudkan kerinduan bersama manusia, yaitu hidup dekat dengan harmoni. Dengan paradigma yang mengindahkan segala yang ada, setiap aktivitas anda menjadi sangat menarik. Merangkai indah demi indah, memandang ke arah indah yang sempurna, indahnya harmoni. Gunakan Progresif-harmoni, segera lihat betapa indahnya dunia, dan mari bersama saya berlari menuju harmoni.

 

GYH,

Andri E. Tarigan

Bahaya Mengikuti Keinginan


            Saya akan berbagi tentang sesuatu hal yang sangat penting untuk anda ketahui. Ini bukan sekedar pengetahuan belaka yang hanya berfungsi sesekali dan selebihnya hanya menjadi hiasan di gudang memori anda. Yang saya bagikan dalam artikel ini adalah jalur utama yang paling efektif untuk meminimalisir penderitaan dalam hidup setiap manusia. Ini mengindahkan! Sehingga, anda tidak perlu berlama-lama lagi memikirkan kondisi diri anda sendiri yang bermasalah, serba kekurangan dan pengen ini-itu, lalu menjadi egois, lalu menjadi tamak, lalu menjadi picik, lalu menjadi penindas, lalu mati mengenaskan, lalu masuk neraka. Oh, tidak… Hehehe. Dengan pengetahuan yang akan saya bagikan ini, surga sekalipun akan anda temui selagi hidup. Bergembiralah!

Sebelum berbicara lebih jauh tentang pengetahuan yang efektif meminimalisir penderitaan, mari terlebih dahulu kita samakan persepsi kita tentang penderitaan. Mari kita ingat-ingat, pada saat kapankah kita menderita? Satu, saat dalam kondisi sakit. Dua, saat dikekang oleh orang lain. Tiga, saat menderita karena kenyataan tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan. Ketiga poin tersebut saya kira sudah cukup mendasar untuk kita jadikan dasar berpijak dalam memandang penderitaan. Adakah poin lain yang bisa anda tambahkan? Silahkan tambahkan dalam mesin berpikir anda pribadi karena dengan hanya menyetujui tiga poin di atas, anda berarti sudah memiliki kesepahaman dengan saya perihal penderitaan dan anda boleh mengekspresikannya dengan terus membaca artikel ini.

Kita mulai dengan membahas poin pertama. Penderitaan yang kerap kita alami terjadi saat berada dalam kondisi sakit. Mari kita cari akar masalahnya. Sakit yang saya maksud dalam poin pertama ini adalah sakit secara fisik. Pada dasarnya, tubuh manusia merupakan sebuah organisasi yang cukup kompleks dan disiplin. Selama asupan gizi yang masuk dan interaksi dengan hal di luar tubuh berlangsung dengan seimbang, maka tidak akan terjadi masalah. Cacat fisik sekalipun bukan masalah apabila kita bisa memaknai keseimbangan dan memeliharanya bagi tubuh kita. Yang terutama dalam memelihara keseimbangan ini adalah dengan menjalani hidup sehari-hari sesuai kebutuhan. Jadi terlebih dahulu yang harus anda pikirkan adalah kebutuhan anda pribadi. Terdengar egois? Ya, pada dasarnya setiap individu memang egois. Jadi silahkan menjadi egois hanya pada saat memenuhi kebutuhan dasar anda saja (Garis bawahi kata “hanya”). Setelahnya, baru dengan cinta yang anda miliki silahkan turut memikirkan pemenuhan kebutuhan orang lain.

Kedua, kita menderita karena dikekang oleh orang lain. Kita menyadari bahwa kita dalam posisi yang tidak adil atau dengan kata lain sedang ditindas. Jawabnya, ya silahkan lawan! Tapi mari pikirkan dulu, apa yang menjadi akar masalahnya. Jika pengekangan tersebut telah memasung pemenuhan kebutuhan anda dan atau orang lain, maka perlawanan adalah langkah yang tepat. Kebutuhan seluruh umat manusia adalah hal yang patut diperjuangkan. Tapi kalau anda merasa terkekang karena terhalang dalam memenuhi keinginan, maka perlu anda menarik diri dan memikirkannya kembali. Keinginan adalah hal yang selayaknya diminimalisir. Jangan-jangan, seperti yang biasa terjadi pada individu lain, keinginan itu sendiri yang menindas anda!

Ketiga, kita menderita karena kenyataan tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan. Salah sendiri, siapa suruh serius memikirkan keinginan? Hehehe. Baiklah, sudah saatnya saya membuka pintu yang akan membawa anda masuk dunia baru, yang hijau dan segar. Karpet merah telah terlentang, ujung yang satu ada di pintu dan ujung yang lain ada di singasana mulia yang bisa kita bahasakan sebagai harmoni semesta. Jalan baru bagi anda untuk semakin mendekatkan diri pada harmoni. Pintu ini berwujud pengetahuan, pengetahuan yang sebelumnya saya janjikan di awal artikel. Kalimat yang paling tepat untuk membahasakan pengetahuan ini adalah, “Kesadaran akan bahaya mengikuti keinginan.”

Keinginan adalah hal yang sangat berbahaya. Sifatnya sangat individual dan tidak memiliki ujung. Coba buka mata anda, dan lihat betapa sejarah manusia menunjukkan dari masa ke masa penindasan dan perbudakan menjadi pemasung pemenuhan kebutuhan banyak manusia demi pemenuhan keinginan segelintir orang. Lihat bagaimana mereka yang dipercayai memiliki kekuasaan malah terjebak dalam keinginannya dan berubah menjadi sosok yang ditakuti dan tidak segan-segan mengerup keuntungan pribadi dari kepemilikan bersama. Lihat bagaimana keinginan membuat manusia menjadi tamak dan lupa diri. Lihat bagaimana kehidupan berkeluarga tak lagi hangat bahkan kaku karena setiap individunya sibuk dengan keinginan masing-masing dan akhirnya frustasi dan depresi karena rangkulan keluarga terasa hampa.

Pola hidup kapitalistik yang berorientasi pada ekonomi merupakan virus budaya utama yang mengembangbiakkan bahaya ini. Ingat apa yang membuat ilmu ekonomi ada? Keinginan manusia tak terbatas, oleh karena itu dibutuhkan seperangkat aturan harga untuk pemaksimalan alat pemuasnya. Suatu kebodohan yang malangnya telah menjadi nilai, sehingga akhirnya alam dieksploitasi, manusia sibuk menenggelamkan diri demi kemapanan ekonomi karena takut tidak bisa mengejar pemenuhan keinginan. Padahal, sudah dipahami sejak awal bahwa keinginan manusia tak terbatas, artinya berusaha memenuhinya merupakan tindakan yang bisa disebut konyol, mereka yang memilih mengikuti keinginan telah menyerahkan mulianya kehidupan untuk terbakar di lingkaran setan pemenuhan keinginan yang tak berujung. Tindak mengikut keinginan menjadi pendorong yang membuat lubang penderitaan semakin menganga.

Fokus dalam pemenuhan kebutuhan dan meminimalisir keinginan adalah jawaban. Selebihnya, serahkan pada cinta. Tentukan tujuan hidup dalam visi yang berlandaskan cinta dan lakukan pula dengan penuh cinta. Semesta yang sempurna telah menunjukkan betapa gerak yang sesuai dengan kebutuhan merupakan dasar  perwujudan harmoni, indah yang menyeluruh. Kerendahan hati yang membawa hikmat surga adalah milik mereka yang mampu memaknai kebutuhan. Ingat, keinginan itu berbahaya!

GYH,

Andri E. Tarigan

APA ITU GYH?

Apa itu GYH? Sebuah pertanyaan yang sering diajukan pada saya lewat jejaring sosial facebook. Pertanyaan ini muncul karena dalam status yang saya update seringkali saya menggunakan GYH sebagai salam penutup. Pemberi pertanyaan tersebut tentu adalah orang-orang cerdas, orang yang suka penasaran, atau mungkin orang yang sepakat dengan esensi dari status saya. Saya senang dengan mereka.

GYH adalah singkatan dari Get Your Harmony. Saya mulai menggunakan GYH sebagai penutup status facebook ketika saya menemukan sebuah paradigma baru yang saya namakan Progresif-Harmoni. Paradigma ini membuat kehidupan saya menjadi berlipatganda keindahannya dan mudah digali maknanya. Dengan progresif-harmoni, saya terbantu untuk memerangi virus-virus zaman yang ternyata secara diam-diam mengerdilkan pemikiran saya. Jika anda adalah pecinta zaman anda mungkin tidak sepakat dengan saya, tapi saya bicara realita dan saya tidak memaksa untuk disepakati.

Progresif-Harmoni merupakan sebuah paradigma baru tentang kebenaran sejati yang tolak ukurnya adalah keindahan. Saya berpendapat, berfilosofi, bahwa setiap langkah manusia didasarkan pada keindahan. Saya tidak mengada-ada atau coba-coba, ini hasil dari pemikiran yang saya dalami semendasar mungkin. Anda lapar? Anda makan karena anda tahu indahnya kenyang. Anda lapar? Anda tidak makan karena anda ingin merasakan indahnya ‘merakyat” (Penggunaan diksi ini berangkat dari kondisi rakyat di negeri kita yang terlalu banyak rasa-rasa laparnya). Ya, anda membutuhkan keindahan sehingga anda berbuat. Anda membutuhkan keindahan sehingga melakukan berbagai tindakan, baik itu tindakan yang menawarkan indahnya positif, atau mungkin yang menunjukkan indahnya negatif, atau bahkan, indahnya interogatif! (Hehehe, ini bagian orang cerdas, indahnya nanya-nanya, indahnya merenung-renung).

Itu poin pertamanya. Poin kedua, saya berpendapat, berfilosofi, bahwa ada dua jenis keindahan yaitu keindahan harmoni dan keindahan romantika. Contoh keindahan harmoni adalah keindahan yang tampak pada kesempurnaan alam, keindahan yang tampak pada kesempurnaan kasih Tuhan, keindahan yang tampak pada konsep surga. Harmoni adalah keindahan yang sejati. Ini yang saya anut sehingga saya memandang Dia, Yang Maha Agung, Yang Sejati, sebagai Sang Harmoni. Dalam paradigma Progresif-Harmoni, Tuhan adalah Sang Harmoni. Jadi, hidup dalam jalan harmoni berarti hidup dalam Dia, hidup menuju Dia, hidup demi Dia, hidup mengikut Dia.

Jenis keindahan yang kedua adalah keindahan romantika. Romantika bisa diartikan sebagai gelombang. Contoh keindahan romantika adalah keindahan yang anda dapat ketika anda menghabiskan banyak energi dengan asyik bermain game online atau ketika anda menghayati sinetron-sinetron bertema romansa. Oh… Anda dibuat bergelombang, anda dibuat naik-turun. Keindahan yang membuat anda naik-turun inilah yang saya namakan keindahan romantika. Sifatnya tidak sejati, hanya sementara. Kalau orang yang sering bergelut dalam bidang kerohanian biasa membahasakannya sebagai keindahan duniawi.

Sebenarnya saya sangat ingin membahas dengan lebih jelas lagi dan menjabarkan secara panjang-lebar tentang yang indah-indah ini, maksud saya tentang kedua jenis keindahan yang saya jadikan sebagai dasar pemikiran. Membahas yang indah-indah adalah esensi hidup anda, pengisi makna anda, dan saya sangat ingin mengindahkan anda. Saya ingin sesama manusia saling mengindahkan, saling menghidupkan. Ah… Indahnya…. Tapi saya takut tulisan ini kepanjangan dan kehilangan keindahan, maka saya membatasinya.

Poin ketiga, saya berpendapat, berfilosofi, bahwa mengikut romantika akan membuat kita semakin jauh dari harmoni, tetapi mengikut harmoni akan membuat kita semakin dekat dengan harmoni sekaligus pula merasakan romantika. Ah… Sayang, tulisan ini sudah cukup panjang dan penjelasan untuk poin ketiga ini bisa mencapai satu bab buku paling tidak. Saya takut menjelaskannya akan membuat tulisan ini tak lagi indah, yang pasti saya sudah memberi tahu poinnya. Anda sudah belajar agama, anda sudah belajar filsafat, anda sudah belajar budaya, anda sudah belajar ilmu sosial. Silahkan kaitkan, silahkan renungkan.

Berdasarkan poin-poin di atas, saya memantapkan langkah untuk mengajak kawan-kawan untuk turut dalam tindak saling mengindahkan. Tentu bukan keindahan romantika yang diutamakan sekalipun kita saat ini masih nempel di tembok duniawi, tapi keindahan harmoni yang saya kampanyekan untuk kita ikuti, keindahan yang sejati, yang sejalan dengan Dia. Mengikut keindahan romantika dapat membuat anda bunuh-bunuhan tetapi mengikut keindahan harmoni membuat anda dapat merasakan surga (Atau sejenisnya, tergantung kepercayaan anda). Untuk itulah saya mengajak anda untuk mendapatkan harmoni anda, I ask you to get your harmony.

Apakah tulisan saya cukup indah? Jika belum, silahkan anda mengindahkannya. Saya bukan orang yang suka kalau pemikiran saya ditelan mentah-mentah. Lagipula, usia saya masih remaja, yang saya ‘makan’ pun adalah ‘makanan-makanan’ remaja, jadi besar kemungkinan pemikiran ini pun masih remaja, butuh pendewasaan lebih lanjut. Tapi dibalik keremajaan tersebut, tersimpan hasrat besar untuk mengajak anda dalam tindak saling mengindahkan. Mari saling mengindahkan!

GYH,

Andri E. Tarigan

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 76 pengikut lainnya.